Apa itu working mum?

Saya nyaris selalu bekerja sejak lulus kuliah sampai sekarang.  Maksud saya bekerja formal dengan gaji dan jadwal yang tetap.  Sejak menikah, hanya ada dua kali break dari pekerjaan formal saya.  Yang pertama selama setahun, ketika saya melahirkan anak pertama, dan yang kedua hampir dua tahun, waktu melahirkan anak yang kedua.

Bagi ibu-ibu seperti saya yang bekerja di sektor formal, predikat working mum lebih mudah disematkan.  Bagi ibu-ibu yang tidak bekerja formal, predikat yang sering digunakan adalah stay at home mum.  Tapi apakah ini berarti mereka tidak bekerja?

Lepas dari apakah yang mereka lakukan di rumah membawa dampak langsung secara finansial (misalnya, ibu-ibu yang berbisnis online dari rumah, buka warung makan di depan rumah, terima pesanan kue dan catering), saya rasa semua ibu bekerja.  Semua ibu adalah working mum.

Waktu saya ambil cuti besar, hari-hari saya disibukkan dengan urusan anak dan rumah tangga. Mulai dari beberes, mencuci, ngepel, masak, belanja, antar-jemput sekolah, memandikan dan memberi makan, dan banyak lagi.  Tentu tiap keluarga kondisinya berbeda, maka pekerjaannya pun akan berbeda.  Ada yang punya satu anak, ada yang lebih.  Ada yang punya bala bantuan, ada yang tidak.  Poin saya, dengan tugas sebanyak itu, semua ibu adalah ibu bekerja.  Kalau tidak, bagaimana tugas seabrek-abrek ini akan selesai?

Ketika saya akan cuti panjang yang pertama, saya tanya pada ibu: gimana kalau nanti saya bosan?  Kalau misalnya anak tidur dan pekerjaan rumah sudah dikerjakan, saya ngapain? Ibu saya menjawab, pekerjaan rumah tidak ada habisnya.  Mungkin maksudmu, kamu bosan dengan rutinitas pekerjaan rumah dan ingin melakukan yang lain. Kamu bisa membaca, menulis,  atau belajar sesuatu.  Yang penting, isi waktu dengan hal-hal yang berguna dan membangun dirimu. Jangan cuma nonton tv dan main facebook, begitu pesan ibu.  Waktu dan potensi yang diberikan Tuhan harus digunakan dan dikembangkan. Kalau kita malas-malasan, itu namanya tidak bersyukur.

Maka mengikuti saran ibu, saya belajar memasak.  Ya, waktu itu saya memang kurang bisa dan kurang gemar memasak.  Karena saya tidak bekerja, kami harus berhemat.  Tidak bisa sering-sering makan di luar.  Itu sebabnya belajar memasak adalah hal pertama yang saya lakukan.  Jadi waktu anak tidur dan pekerjaan rumah bisa menunggu, saya mulai bongkar buku resep dan memasak.  Lumayan, sampai sekarang masakan saya masih bisa ditelan, nggak parah-parah amat.

Ketika saya cuti panjang kedua, saya belajar bikin kue dan cemilan.  Risoles, kroket, arem-arem, klepon, cake, muffin, brownies, lemper, cheesetick dan roti isi, semua saya coba.  Suami sumringah, karena hampir tiap pulang kerja ada teh dan cemilan menanti.

Ketika acara masak-memasak mulai kehilangan daya tariknya, saya mulai melirik hal lain.  Waktu itu yang menarik minat saya adalah belajar menerjemahkan.  Kebetulan ada kenalan yang sedang menerjemahkan buku anak-anak dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.  Saya memberanikan diri untuk menawarkan bantuan, dan ternyata disambut baik.  Walaupun awalnya hasil terjemahan saya banyak sekali diedit, lama-lama saya mulai paham apa yang diinginkan. Mulai ketemu pakemnya.

Di waktu lain, saya berusaha banyak membaca.  Mulai dari chic lit, artikel kesehatan, artikel tentang perkembangan anak, tentang barang antik…apa saja yang menarik minat saya.  Sekali-kali saya pun ikut ngumpul dengan ibu-ibu lain sambil membawa anak-anak bermain, atau volunteering di sekolah waktu suami dapat libur dan bisa menjaga si kecil.

Intinya,  seperti pesan ibu, walau di rumah saya berusaha tetap melakukan hal-hal yang berguna.  Berguna bagi saya, keluarga saya, dan juga bagi orang-orang di sekitar saya.  Maka bagi saya, walaupun waktu itu resminya saya di rumah, saya tetaplah a working mum.

Advertisements

Cleaning Lady

Sebagai ibu bekerja di luar rumah, satu hal yang agak sulit untuk dilakukan adalah membersihkan rumah.  Kalau sekedar spot cleaning tentu dilakukan tiap hari.  Nyapu, ngelap dan beberes setiap hari memang tidak bisa dihindari.

Yang jadi persoalan, saya dan suami tidak punya waktu (dan energi) untuk membersihkan rumah secara menyeluruh.  Misalnya menyikat kamar mandi dan WC, ngelap jendela, ngepel dan vakum, membersihkan oven, dan teman-temannya.  Setelah ngantor dari pagi sampai sore, disambung spot cleaning dan pr anak-anak di malam hari, lalu berbagai aktivitas di akhir minggu, sesungguhnya nyaris tidak ada waktu tersisa. Bahkan untuk sekedar selonjoran di depan sofa.

Maka sejak saya kembali ngantor, kami mengajak seorang cleaning lady dan suaminya untuk terlibat dalam urusan domestik kami. Mereka datang dua minggu sekali sekitar tiga jam, untuk membersihkan apa yang tidak sempat kami bersihkan.

Tentu dengan adanya mereka kami jadi sangat terbantu.  Apalagi mereka bisa ditinggal, jadi waktu kami pulang rumah sudah bersih dan rapi.  Barang-barang semua kembali ke tempatnya. Kamar mandi dan WC tersanitasi.  Dapur dan oven disemprot dan digosok mengkilap, karpet dan lantai bersih disedot dan dipel dengan cairan antiseptik.

Tapi tahukah Anda, betapa sibuknya saya di malam sebelum kedatangan mereka?

92f6334c38937aa48f06dae9228fc3ac

Di malam sebelum kedatangan si cleaning lady dan suaminya, saya membereskan baju-baju, sepatu, tas,mainan dan entah apa lagi, yang bertengger di tempat-tempat yang tidak semestinya.  Membereskan setiap ruangan dan mengosongkan tempat sampah di kamar mandi.  Membereskan cucian supaya tidak terlalu menggunung. Membersihkan kulkas dari makanan yang sudah melihat hari-hari yang lebih baik. Mengatur rak sepatu dan rak buku.  Melap kompor supaya tidak terlalu kotor. Bahkan, suami saya membersihkan toilet yang akan dibersihkan oleh si cleaning lady!

Kadang saya berpikir, rumah kan mau dibersihin, kok saya bersihin duluan? Tapi sejujurnya, saya nggak rela orang lain melihat rumah saya dalam kondisi porak-poranda.  Sesibuk-sibuknya saya, naluri sebagai homemaker mendorong saya untuk membuat rumah kelihatan somewhat presentable. Walaupun yang melihat adalah orang yang sebenarnya akan membuat rumah saya presentable!

Siapa bilang ibu-ibu tidak complicated…

Kopi

Sebenarnya kalau dibilang saya nggak bisa survive tanpa kopi, ya nggak juga. Kayaknya kok lebay banget…

Tapi memang kebiasaan yang saya pupuk sejak sering begadang di masa-masa perjuangan di bangku kuliah bikin minum kopi jadi satu ritual tersendiri. Rasanya kalau belum minum kopi seharian seperti ada yang kurang (nah yang ini honestly rada lebay deh…).

Idealnya nih, pinginnya saya minum kopi itu pagi-pagi. Almost the  first thing in the morning, setelah bangun pagi, bersyukur pada Sang Pencipta dan sikat gigi.

Apa daya. Dengan hiruk-pikuk pagi hari, perjalanan ke sekolah anak-anak disambung perjalanan ke kantor, maka saya baru bisa minum kopi begitu sampai di kantor.  Sekitar tiga setengah jam setelah saya bangun. Bayangkan. Menunggu begitu lama hanya untuk menikmati secangkir kopi dengan tenang.

Itu pun kalau tidak ada gangguan eksternal begitu saya sampai di kantor. Kadang-kadang bos saya kreatif dan sangat berinisiatif. Belum juga saya duduk, dia mengusulkan untuk stand up comedy – eh – stand up meeting. Saya bikin kopi dulu ya bos? Kata saya. Sebentar saja kok ini, katanya. Memang stand up meeting (atau stand up saja kata orang-orang sini) harusnya cepat selesai. Lapor progress, issues and plan, sudah. Tapi kalau yang laporan satu tim, apalagi kalau ada yang lagi galau maka isi laporannya issue melulu, tetap aja jadi lama.  Jadilah saya menunggu lagi untuk bisa menikmati secangkir kopi.

Tahukah mereka, setelah berjibaku sekian jam dengan kesibukan di pagi hari, betapa saya menantikan kehangatan cairan kopi dengan aromanya yang dahsyat dan cita rasanya yang dalam?

Sungguh, saya pun tak bisa menyangkal kalau ini lebay…