Working from Home

Bukan. Itu bukan gambar rumah saya. Kalau iya, alangkah indahnya.

Sejak punya anak kemudian kembali kerja kantoran, saya ‘berhasil’ negosiasi untuk sekali-sekali kerja dari rumah. Biasanya kalau perlu datang ke acara-acara sekolah, saya memilih kerja dari rumah. Sekolah anak-anak tidak jauh dari rumah, kalau harus ke kantor dulu saya akan habis waktu untuk mondar-mandir. Jauh lebih hemat dan lebih produktif kalau saya langsung ngantor di rumah saja.

Balik lagi ke gambar di atas, duh, bener deh, pinginnya ruang kerja saya di rumah seperti itu. Apa daya, meja kerja saya sejauh ini masih merangkap meja makan (atau sebaliknya). Spare room yang sedianya dipakai untuk study akhirnya jadi ‘multipurpose room’ saking semua-semua yang gak punya alamat resmi disimpan di situ.

Ada sekotak mainan yang gak punya tempat karena rak mainan sudah terlalu penuh. Sekeranjang baju bersih yang belum sempat dilipat. Dua bungkus  nappy  pants yang gak sempat terpakai. Modem. Printer. Puzzles dan game boards.  Termos besar yang entah kenapa bertengger di situ dan bukannya di lemari dapur. Mungkin kegedean  jadi gak muat masuk lemari. Sekotak bahan arts and crafts. Sekotak cangkir dan tatakan yang belum sempat disusun di lemari dapur. Meja setrika yang harusnya dilipat dan disimpan di balik pintu. Entah ada apa lagi di kamar itu. Eh bener kan, multi purpose? Gak bohong saya…

Maka di hari saya bekerja dari rumah, saya bertapa di meja makan. Untungnya saya nggak terlalu suka ngeprint, jadi saya jarang bawa pulang kertas-kertas kerjaan. Meja makan tetap rapi dan bersih dari tumpukan kertas. Hanya saja, dengan dua anak kecil yang kecepatannya ngotorin rumah melebihi kecepatan cahaya, kerja dari rumah memberi tantangan tersendiri.

Dari tempat saya duduk, saya bisa lihat bungkus crackers di bawah meja tv. Ada crayon warna ungu di dekatnya. Dan potongan lego warna biru dan orang-orangan lego. Kepalanya saja.

Di dekat ketel ada botol air Number 1 yang lagi-lagi lupa saya masukkan ke tasnya. Berarti hari ini dia harus minum langsung dari water fountain. Di pintu kulkas ada cap tangan Number 2 yang tadi pagi mengoles sendiri selai coklat ke roti tawarnya. Di dekat pintu ada sepatu suami. Padahal rak sepatu ada di balik pintu itu. Kenapa ya kok perjalanan sepatunya cuma sampai situ? Nanggung banget…

Hati nurani saya terusik untuk segera menyingsingkan lengan baju dan bersih-bersih, sementara di layar komputer terlihat email mulai berdatangan. Skype mulai berkedip genit cari perhatian. Deadline sudah dekat. Kerjaan masih menumpuk.

Dengan berat hati saya mulai mengetuk keyboard. Menjawab pertanyaan orang-orang yang mulai tidak sabar. Memoles dokumen yang harus segera disubmit ke client. Memeriksa defect list yang makin lama makin panjang.

Waktu jarum pendek dan jarum panjang menyentuh angka 12, saya segera bangkit dari tempat duduk. Merunduk di depan meja tv sambil menggapai-gapai, mencari crayon, lego, bungkus crackers dan kepala orang-orangan lego. Meletakkan sepatu suami di tempatnya. Mengambil lap dan membersihkan pintu kulkas. Menyimpan botol air di kulkas supaya dingin waktu Number 1 pulang. Mengambil sapu dan mulai menyapu. Memilah dan memasukkan baju kotor ke mesin cuci. Mengosongkan dishwasher dan mengisinya kembali dengan onggokan piring kotor berikutnya. Mengintip kulkas cari makan siang sambil mikir mau masak apa untuk makan malam. Mengambil dan menyortir surat dari kotak pos.

Dan tiba-tiba waktu istirahat habis sudah. Email kembali bermunculan. Skype kembali berkedip. Waktunya kembali bekerja. Sambil membayangkan seandainya ruang kerja saya seperti  di gambar itu…

Advertisements

Gratisan

Hari ini dalam perjalanan ke kantor, di dekat lampu merah tak jauh  dari kompleks perkantoran, berdiri dua orang gadis manis. Biasanya saya tidak akan terlalu terusik karena sepanjang jalan begitu sering berpapasan dengan yang seperti mereka.

Tapi hari ini sungguh mereka terlihat lebih menarik, karena di antara keduanya berdiri sebuah ember besar dengan seonggok es kopi botolan. Dengan ramah mereka menawarkan botol-botol kopi ini kepada orang-orang yang bersliweran. Iced coffee for free? tak lupa senyum manis pun ditebarkan.

Saya yang sudah menerawang dari seberang jalan langsung berdiri tegak mendengar kata free. Segera saya menekan tombol minta lewat di tiang lampu merah. Tuk..tuk..tuk…tak lama lampu pejalan kaki berubah hijau. Segera saya menyebrang mendatangi gadis-gadis manis dengan kopi gratis. Menebar senyum tak kalah manisnya, saya menyambut si botol kopi dingin dengan gembira.

Kopi dingin enak dan gratis, you just made my day!