To-do List

Kenyataannya, saya lebih sering mengandalkan ingatan (yang kapasitasmya sudah terpengaruh faktor “U”) dan membuat mental note di pagi hari untuk hal-hal yang urgent di hari itu.

Siapa yang tidak pernah bikin – atau at least berusaha bikin – todo list? Dan berapa banyak yang berhasil menepati setidaknya sebagian besar to do list-nya?

Saya termasuk penggemar to-do list. Sejak dibelikan agenda kecil oleh ibu saya waktu masih di bangku SD (karena sering lupa bikin pr), saya jadi terbiasa mencatat apa-apa yang harus dikerjakan. Saking rajinnya sampai-sampai beberapa teman suka  nyontek to-do list saya. Loh…kok bukan pr-nya yang dicontek? PR saya kurang meyakinkan tampaknya…

Kebiasaan membuat to-do list saya teruskan, or at least berusaha saya teruskan, sampai menikah dan punya anak. Tapi saudara-saudara, dengan empat kepala di bawah satu atap, dengan kebutuhan dan permasalahannya masing-masing, sebanyak dan sesering apapun saya membuat to-do list ada saja yang terlewatkan.

Padahal di jaman yang semakin canggih ini saya punya piranti pengingat yang seharusnya memudahkan saya. Mulai dari hape yang ribut bernyanyi kalau ada tugas yang belum dikerjakan, outlook calendar, sampai kalender magnet di kulkas yang bisa dicoret-coret dengan whiteboard marker.

Tapi memelihara to-do list untuk empat orang sungguh seperti mendaki gunung terjal yang tak kelihatan puncaknya. Number 1 perlu kaos kaki sekolah. Number 2 minggu depan ada excursion, perlu bekal. Atau itu Number 1? Pak boss perlu diingatkan panggil plumber untuk benerin keran bocor (sungguh, saya juga nggak habis pikir kenapa dia nggak membuat to-do listnya sendiri).  Ada tiga undangan ultah dalam dua minggu ke depan yang perlu dibeli kadonya dan diatur siapa mengantar anak yang mana. Weekly meeting minggu depan dimajukan ke pagi hari, jadi harus negosiasi dengan pak boss untuk mengantar krucil. Invoice ekskul sudah overdue. Sepertinya bulan lalu sudah ada reminder untuk bayar? Apa yang terjadi? Hmm…kemungkinan besar karena hp super pintar terus-terusan mengingatkan, saya jadi agak kesal. Iya, iya…saya sudah tahu. Klik, reminder dimatikan.

Akhirnya, saya lebih sering mengandalkan ingatan (yang kapasitasnya sudah tergerus faktor “U”) dan membuat mental note di pagi hari untuk hal-hal yang urgent di hari itu.  Jadi sebenarnya to-do list hanya dibuat untuk membuat saya feel better. At least hal-hal yang menurut saya penting sudah tercatat di berbagai piranti pengingat. Apakah nantinya saya akan lihat daftar itu dan mencoretnya satu demi satu, itu masalah lain…