Berguna Bagi Nusa dan Bangsa

Saya masih ingat betapa seringnya membaca atau mendengar ucapan ini ketika ada bayi yang baru lahir: Semoga menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.  Sekarang kedengarannya sangat klise, dan kita lebih sering memakainya dalam konteks guyonan.  Tapi kalau dipikir-pikir there is truth behind this sentence.

Pertanyaan kalau sudah besar mau jadi apa? mungkin umurnya sama tuanya dengan meja setrika ibu saya.  Bahkan lebih tua. Baru masuk tk saja kita sudah ditanya mau jadi apa.  Bisa baca aja belum ooommm….

Pikiran jadi apa menempel juga pada saya, dan menjadi tujuan hidup masa kecil saya. Singkatnya, saya harus belajar yang baik supaya jadi orang.  Jadi apa dalam benak saya saat itu masih sangat mainstream.  Jadi dokter, jadi guru, jadi lawyer, jadi polisi, jadi pramugari, adalah pemahaman saya tentang jadi orang.  Tanpa memikirkan mengapa.

Namun belakangan saya merasa berguna bagi nusa dan bangsa menjadi lebih penting daripada jadi apa.  Sebenarnya kalau disederhanakan, kalimat itu kan maksudnya berguna bagi orang lain.  Kita tidak hidup sendiri, dan seharusnya tidak hidup hanya untuk diri sendiri.  Saya yakin setiap kita ditempatkan di bumi ini untuk suatu tujuan yang baik.  Jadi, apapun yang kita lakukan, apa pun profesi kita, seharusnya berguna bagi orang lain.  Tidak jadi beban, apalagi jadi penyakit.

Pelan-pelan saya belajar menularkan pengertian ini pada anak-anak.  Bahwa mereka belajar sekarang agar nantinya bisa melakukan sesuatu yang membantu orang lain.   Ketika mereka menekuni suatu hobi pun, entah itu musik, melukis, main bola, menyanyi, kerajinan tangan, tujuannya adalah mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Duh, sudah cukup berpikir kerasnya.  Sekarang yuk berpikir ringan. Masak apa hari ini?

Belanja

Saya senang mengamati detil gambar, warna dan ukir-ukirannya.  Lama-kelamaan, saya mulai bisa mengenali apakah piring ini buatan Inggris atau negara Eropa lainnya.  Apakah cangkir itu keluaran Jepang atau Eropa.  Jadi sambil koleksi, ada tambahan wawasan yang saya dapatkan.

Hobi belanja? Sama. Saya juga.

Suatu hari saya dan suami ngobrol-ngobrol dengan beberapa pasang teman.  Lalu ada suami yang mengeluh baju istrinya sudah memakan dua lemari di rumah.  Nggak cukup satu. Harus dua. Dan dua-duanya sudah penuh sesak! Suami yang lain punya istri yang hobi beli sepatu.  Tidak kurang dari 96 pasang sepatu (ini pengakuan istrinya sendiri) ada di rumah.  Beberapa bahkan masih di kotak, belum sempat menginjak tanah.  Lalu suami yang  lain lagi mengeluhkan koleksi tas istrinya yang hampir tiap bulan beranak. Istrinya langsung membela diri.  Warna dan model tas harus menyesuaikan dengan event yang akan dihadiri.  Tas cangklong gak mungkin dipakai kondangan kan? Begitu pula clutch nggak bisa dibawa piknik. Gimana sih papiiii…

Nah, ketika tiba giliran suami saya untuk menyingkap isi lemari saya, dia cuma senyum-senyum.  Nggak tuh, istriku nggak doyan belanja. Biasa-biasa aja.  Ah masa? Kata istri-istri yang lain. Masa nggak beli sepatu, baju atau apa kek? Nggak, kata suami. Baju, biasa aja. Sepatu, ada beberapa tapi nggak banyak banget. Memang dasarnya nggak suka belanja yang seperti itu, lanjut suami.  Dan para istri (dan suami) pun terperangah.

Nah, let me be level with you.  Memang saya gak terlalu suka belanja baju, sepatu, tas dan teman-temannya.  Tapi, saya suka beli chinaware dan silverware.  Apalagi yang antik-antik.  Cangkir teh, teko, sendok-sendok perak, nampan ukir-ukiran, jepitan kue…Semua itu bukan untuk dipakai, tapi semata-mata untuk dipajang.

Saya suka mencari tahu siapa pembuat benda-benda cantik ini dan tahun berapa.  Saya senang mengamati detil gambar, warna dan ukir-ukirannya.  Lama-kelamaan, saya mulai bisa mengenali apakah piring ini buatan Inggris atau negara Eropa lainnya.  Apakah cangkir itu keluaran Jepang atau Eropa.  Jadi sambil koleksi, ada tambahan wawasan yang saya dapatkan.

Barang-barang seperti ini tidak bisa dijumpai di mall.  Saya ikut komunitas penggemar antik, datang ke pameran dan market, dan berburu online.  Ada kepuasan tersendiri waktu bisa mendapatkan barang yang sudah saya incar sejak lama.  Dari situ pun saya jadi tambah teman dan kenalan.

Psstt…saudara-saudara, ternyata kalau dihitung-hitung hobi ini makan biaya lumayan juga…Sama saja dengan beli-beli tas, baju atau sepatu. Toss!!