Celengan

Anak-anak saya belum dapat uang jajan rutin.  Saya merasa belum perlu.  Setiap hari mereka bawa bekal dari rumah, mulai dari snack, buah, jus, air putih, sampai makan siang.  Kantin hanya buka hanya dua atau tiga hari dalam seminggu, dan snack yang dijual hampir semua bisa disediakan dari rumah.  Jadi anak-anak tidak perlu membeli di kantin.

Walaupun tidak punya uang saku yang tetap, anak-anak punya celengan.  Uangnya dari mana? Macam-macam.  Ada dari neneknya, tantenya, omnya, ada juga yang dari saya dan ayahnya.  Mereka boleh membuka tabungan di hari ulang tahun, dan memakai uangnya untuk pesta ultah dengan teman-teman.  Kalau tidak ingin pesta ultah (kami tidak membiasakan mereka harus pesta ultah), mereka boleh beli sesuatu yang agak besar nilainya.  Misalnya sepeda, trampolin,  dan sejenisnya.

Uang dari saya dan suami biasanya diberikan kalau mereka membantu kami di sekitar rumah, baik diminta maupun inisiatif sendiri.  Tidak selalu diberi, supaya uang tidak jadi motivasi untuk membantu.  Tergantung kami, akan memberi atau tidak.  Akibatnya kalau tiba-tiba diberi, mereka senang sekali!  Dapat sekeping senangnya seperti menang lotere semilyar… Uang itu lalu mereka masukkan ke celengan untuk menambah dana ulang tahun.

Di hari ulang tahun mereka kami membongkar celengan, lalu pergi ke bank menukarkan sekantong recehan dengan uang kertas. Ini tabungan saya, kata si anak yang berulang tahun kepada teller di bank. Bangga sekali dia.

Dua tahun belakangan ini saya jadi terinspirasi punya celengan juga.  Awalnya karena sering terima kembalian receh, dompet saya jadi berat. Saya keluarkan dari dompet, malah tercecer karena tidak ada tempat khusus.  Akhirnya saya pakai celengan. Lumayan lho, tahun lalu dengan recehan itu saya bisa mengganti karpet karet yang di dalam mobil.  Nah, siapa tahu tahun ini bisa ganti mobilnya…

Apa? Tidak ada uang?

Inilah reaksi saya waktu mengajukan proposal untuk membeli sesuatu yang nilainya cukup tinggi.

Pak boss (aka suami) menggeleng kalem.  No. Tidak ada uang.

Kok bisa??????  Saya mulai histeris.

Suami hanya mengangkat bahu. Kamu pikir pengeluaran kita sebulan berapa? Kalau kamu mau beli *barang itu* sekarang, artinya harus ambil dana taktis (alias tabungan untuk hari-hari hujan yang berdasarkan perjanjian memang tidak boleh diutak-utik untuk hal-hal yang tidak urgent).  Tunggulah, kan belum perlu banget, lanjutnya, masih kalem.

Masih tidak percaya (dan sedikit kesal dengan tanggapan yang terlalu kalem), saya mulai melakukan investigasi.  Masa iya gak ada dana nganggur tersimpan di suatu tempat? Tersembunyi di suatu pojok? Kan kami berdua bekerja. Double income! Walapun dipotong pajak yang besarnya bikin nangis darah, tetap saja itu double income. Lebih banyak dibanding single income. Ya kan? (matematika saya cukup sampai sekian).

Selama ini saya memang menyerahkan urusan keuangan pada suami.  Saya tidak punya energi untuk itu. Lihat tagihan saja sudah bikin saya pingin ngumpet di balik selimut, apalagi menghadapinya.  Suami saya lebih bernyali.  Tapi kali ini rasa penasaran membuat saya memberanikan diri membongkar folder-folder yang tersusun rapi.  Pak boss memang oye. Ada folder khusus tagihan air, tagihan listrik, folder asuransi, tagihan sekolah, pajak perumahan… Lho, kok banyak ya?

image from the internet

Lalu saya membuat daftar pendapatan dan pengeluaran bulanan di excel.  Berusaha serinci mungkin, saya mengambil angka-angka dari rekening koran dan dokumen tagihan-tagihan yang diarsip suami. Ternyata hasilnya memang fantastis! Nyaris pingsan is an understatement.

Masih kurang yakin, saya minta pak boss untuk cek. O, ini mobil ada asuransi juga, bukan cuma pajak tahunan.  Lalu rumah ini ada asuransi.  Kamu juga belum masukkan asuransi kesehatan.  Sudah masukkan biaya telepon dan internet? Biaya parkir dan ongkos kereta setiap hari?  Semakin lama hati saya semakin ciut.

Pak boss pun menenangkan saya.  Kita bukannya kekurangan. Masih banyak orang yang harus lebih hati-hati dengan budgetnya. Yang penting, dengan yang ada ini kita tetap bisa bantu orang lain yang perlu dibantu.  Saya hanya bisa mengangguk-angguk.

Tapi memang saat ini belum waktunya membeli *barang itu*, lanjutnya.  Kamu harus tunggu tabungan kita cukup, tanpa mengutak-utik dana taktis.

Ya, masuk akal juga.

Mungkin kamu bisa mulai kurangi beli kopi dan bawa bubuk kopi dari rumah, hmm?

….

Pakai Baju Apa Hari Ini?

Apakah saya ingin penampilan saya instagrammable? Apakah saya ingin orang bilang saya kelihatan cantik? Apakah saya ingin orang bilang baju saya bagus?  Atau, sebenarnya yang lebih penting adalah, orang lain merasa nyaman di dekat saya? Orang lain merasa dihargai lewat cara saya berpakaian?

Dulu saya sering bingung mau pakai baju apa.  Baju ada selemari, tapi tiap kali mau pergi rasanya seperti nggak punya baju. Akhirnya balik lagi ke baju yang itu lagi, itu lagi.

Setelah dipikir-pikir, letak masalahnya adalah saya ingin kelihatan chic dan stylish seperti orang lain yang chic dan stylish di mata saya.  Akibatnya beli baju ini-itu, lepas dari pertimbangan tentang kecocokan.  Misalnya, apakah baju itu cocok untuk umur saya dan kenyataan bahwa saya ibu beranak dua? Apakah model itu cocok dengan bentuk tubuh saya?  Dengan jenis pekerjaan saya? Dengan tempat-tempat yang biasa saya kunjungi?

Saya juga sempat terjebak pemikiran punya baju banyak akan lebih mudah memutuskan pakai yang mana.  Kenyataannya, saya justru tambah bingung.  Atasan mana yang cocok dengan rok merah bunga-bunga ini? Wah…sepertinya nggak ada. Apa artinya saya harus beli lagi?

See what I mean?

Image result for nothing to wear cartoon
Image from the internet

Saya lalu berpikir, apa sebenarnya tujuan saya waktu memakai pakaian tertentu?  Apakah supaya penampilan saya instagrammable? Supaya orang bilang saya kelihatan cantik? Supaya orang bilang baju saya bagus?  Atau sebenarnya, yang seharusnya lebih penting, apakah orang lain merasa nyaman di dekat saya? Orang lain merasa dihargai lewat cara saya berpakaian?

Contoh ekstrimnya, kalau saya meeting dengan client, tentu kurang pas datang dengan rok mini.  Kalau saya diundang makan, tentu nggak pas kalau saya nongol dengan t-shirt yang saya pakai berkebun.  Atau kalau saya volunteering  di rumah lansia, tentu nggak pas datang dengan baju pesta.  Sekali lagi, ini contoh ekstrimnya.

Pencerahan ini membuat saya terdorong untuk simplify my wardrobe.  Baju yang teronggok bertahun-tahun karena setelah dibeli ternyata tidak cocok saya singkirkan.  Saya juga merasa perlu menemukan style saya sendiri, dan tidak maksain style orang lain.  Mungkin blus rimpel-rimpel terlihat cantik untuk orang lain, tapi nggak nyambung untuk saya.  Mungkin rok lebar terlihat manis untuk orang lain, tapi seperti tenda kalau saya pakai.  Lalu, apakah baju model tertentu bikin saya risih? Jika saya memakai baju itu, apakah sepanjang waktu saya akan merasa nyaman, atau sangat self conscious dan sedikit-sedikit perlu membetulkan baju?

Tentu ini semua lewat proses trial and error. Tidak instan.  Apalagi, pada dasarnya saya bukan orang yang terlalu stylish, jadi memang perlu waktu untuk mengenali apa yang cocok untuk saya.

Nah, lewat proses ini, wardrobe saya perlahan-lahan berganti wajah.  Saat ini, baju saya lebih banyak berwarna netral dengan model yang simple dan timeless.  Tentu ada warna-warna cerah di sana-sini, tapi jumlahnya tidak banyak.  Khusus untuk bekerja, saya lebih banyak memilih warna hitam-putih. Proses memilih pakaian jadi jauh lebih cepat. Supaya tidak monoton, saya tinggal menambahkan scarf atau aksesoris berwarna.

Saya juga belajar untuk mementingkan kualitas dibanding kuantitas.  Memang dengan besaran uang yang sama, jumlah baju yang bisa saya beli jadi lebih sedikit. Tapi saya dapat baju yang potongannya bagus, bahannya nyaman, dan tahan lama.

Intinya bagi saya, waktu yang ada bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekedar pusing urusan pakai baju apa hari ini.

Gimana. Siap bongkar lemari?

Yuk…