Who’s the Boss?

Pa, mau makan snack

Nanti ya, habis makan nasi.

Tapi kata mama boleh.

Iya, nanti habis makan.

TAPI KATA MAMA BOLEH!!

Percakapan itu terjadi antara anak saya dan Pak Boss.  Tidak hanya sekali, dan bukan hanya urusan makanan.  Entah kenapa ujung-ujungnya nama saya dicatut.

Saya dan suami memang punya karakter yang berbeda. Ya wajar dong, namanya juga dua pribadi yang berbeda.  Saya lebih strict, suami lebih santai.  Saya emosional, suami lebih rasional.  Saya terlalu banyak mikir yang belum tentu kejadian, suami lebih pragmatis.

Perbedaan sifat ini berdampak ke aturan-aturan kami ke anak.  Saya bilang, kalau anak nggak mau makan ya jangan dipaksa, supaya dia tau rasanya lapar. Suami bilang, anak harus makan walaupun sedikit, biar nggak sakit.  Saya bilang, sama anak harus tegas supaya disiplin. Suami bilang, ada waktunya harus tegas, ada waktunya lunak karena mereka toh masih anak-anak.  Kelihatan kan bedanya?

Sebernarnya sifat kami itu saling melengkapi.  Salahnya, saya dan suami suka nggak kompak di depan anak. Lebih lagi, karena saya lebih cerewet, saya sering berhasil menerapkan aturan dan cara saya.  Akibatnya adalah seperti percakapan di atas.

Belakangan saya disadarkan cara seperti itu nggak sehat.  Bagaimanapun, suami adalah kepala keluarga.  Sekalipun hak dan kewajiban kami sejajar, di dalam rumah tangga tetap harus ada ordo supaya teratur.  Seperti naik bis kalau supirnya dua, satu mau ke kiri satu ke kanan, akhirnya kemana perginya? Bayangkan bingungnya anak saya kalau saya dan suami terus memaksakan cara yang berbeda – siapa yang harus mereka turuti?  Lebih celaka lagi kalau makin lama mereka merasa saya lebih berkuasa dibanding ayahnya.

Maka saya belajar untuk menahan diri.  Ketika saya tidak setuju dengan cara suami, mulut direm untuk nggak langsung protes.  Saya juga belajar meletakkan suami di posisinya, dengan membiasakan anak-anak minta pendapat ayahnya.  Papa bilang apa? Kalau papa bilang boleh, mama juga boleh.  Kira-kira seperti itu. Kalau beda pendapat, kami belajar selesaikan di belakang anak-anak, dan muncul di depan mereka dengan satu pendapat, satu aturan.

Tentu semua ini proses.  Karakter saya yang tidak sabaran kadang bikin saya susah dan gemeess.  But this is marriage.  Ada proses belajar.  Ada proses mengalah dan menerima.  Supaya semuanya berjalan baik.

Yuk…

Advertisements

Setrika On Demand

Image result for ironing poster
image from the internet

Sstt….sini saya beri tahu satu rahasia.

Saya tidak suka menyetrika.

Sejak kecil saya dan kakak-adik dapat tugas yang harus dikerjakan setiap hari. Ada yang kebagian nyapu, cuci piring, siram bunga, menyusun piring di meja makan, dan lain-lain.  Tentu disesuaikan dengan usia, makin besar tugasnya makin banyak.  ‘Tugas berat’ seperti masak, ngepel, cuci baju dan setrika dikerjakan oleh asisten yang datang ke rumah setiap hari.  Tapi kalau asisten sedang libur, pekerjaan ini dibagi-bagi ke kami juga.

Entah kenapa saya selalu dapat tugas nyetrika.  Kakak saya selalu kebagian cuci baju, tapi somehow dia bisa ngeles dan menghindar.  Ada tugas kelompok ma.  Ada latihan marching band ma.  Adaaaa saja alasannya.  Sedangkan saya kayaknya masih terlalu polos (ehm) untuk urusan ngeles-mengeles.

Meja setrika ibu benar-benar jadul kebangetan.  Masih adakah yang punya meja papan kayu dengan rak besi di bawahnya?  Itulah meja setrika ibu, yang umurnya mungkin cuma beda sedikit dengan saya yang masih abg ini.  Meja ini tidak bisa diatur tingginya, jadi saya harus berdiri sambil nyetrika.

Alhasil sesiangan saya seperti di-strap, berdiri sambil berjibaku dengan tumpukan setrikaan.  Jangan ditanya berapa banyak baju yang sudah jadi korban karena:

a. Saya kesal setrikaan banyak sekali

b. Saya tidak tahu mengatur suhu untuk jenis kain yang berbeda

c. a+b

Tentu ibu menyuruh saya berhenti kalau kelihatan sudah capek dan mandi keringat (kadang capeknya dibuat-buat supaya cepat disuruh ngaso).  Tapi tugas menyetrika tetap menempel sampai saya meninggalkan rumah.

Ketika saya menikah dan tidak punya asisten, menyetrika adalah salah satu hal pertama yang saya ubah pakemnya.  Baju-baju kering dari jemuran cukup saya lipat atau gantung serapi mungkin, tanpa disetrika.  Saya menerapkan prinsip ‘setrika on demand’.  Kalau mau pergi dan baju yang mau dipakai kusut, barulah saya setrika.  Kalau tidak kusut, ya tidak usah. Ini berlaku untuk baju suami dan anak-anak juga.

Waktu ibu menginap di rumah saya, suatu hari beliau tanya kapan saya nyetrika.  Mungkin mulai risih melihat tumpukan baju yang belum diapa-apakan.  Dengan santai saya jawab, nanti saja kalau perlu.  Ibu sedikit terkejut, dan langsung mengeluarkan meja dan setrika.  Ini kalau dikerjakan rutin tidak akan lama, ujar ibu sambil tangannya mondar-mandir dengan kecepatan tinggi di atas sehelai baju.   Ok ma, jawab saya.

Sambil ngobrol saya mulai melipat pakaian dalam.  Lama-lama saya sadar, ibu mengambil pakaian dalam yang sudah saya lipat, dan menyetrikanya.  Pakaian dalam nggak usah ma, kan gak ada yang lihat, kata saya.

Ibu berhenti sambil memandang kaus dalam yang sudah hangat dan licin.  Mungkin seperti mendapat pencerahan. Ya, siapa tau kalau ada apa-apa, baju dalamnya kelihatan, kan biar rapi…jawabnya kalem, sambil kembali menyetrika pakaian dalam.

….