Boredom

Pernahkah saya bosan kerja kantoran? Tentu.

Waktu di rumah, pernahkah saya bosan kerja rumahan? Tentu juga.

Pada dasarnya manusia memang suka tidak puas.  Sudah dapat apel, pingin jeruk. Dapat jeruk, pingin anggur. Dapat anggur, pingin apel lagi.

Image result for bored cartoon

Begitu pula waktu di tempat kerja, kadang saya tidak bisa menghindari rasa bosan karena rutinitas.  Padahal pekerjaan saya sudah cukup menyediakan variasi.  Tapi setelah sekian tahun berkecimpung di industri yang sama, sekali-sekali saya akan ketemu kerjaan yang itu lagi, dengan metode yang ini lagi.  Bahkan rutinitas pergi ke kantor 8-5 setiap hari cukup untuk memicu rasa bosan.

Kadang saya berpikir, seandainya saya kembali kerja di rumah, tidak formal di kantor lagi, apakah rasa bosannya berkurang? Apalagi belakangan banyak yang mempropagandakan do what you love, atau be your own boss, atau follow your dream dan semacamnya.  Benarkah jika saya kerja sendiri, melakukan apa yang saya mau, maka rasa bosan akan hilang? Mungkin saja.  Tapi mungkin juga tidak.  Sifat pekerjaan serta tantangan-tantangan ketika bekerja sendiri bisa jadi tidak pas dengan karakter dan kondisi saya.  Bisa jadi saya pun akan bosan karena berhadapan dengan tantangan yang itu-itu lagi.

Belum lama ini, pak Boss cerita tentang omong-omong dengan teman-temannya di group bapak-bapak.  Dia bilang, pekerjaan – apa pun itu, entah secara formal maupun informal – seharusnya memiliki dampak positif bagi orang lain.

Benar juga ya? Bayangkan jika tujuan kita bekerja hanya untuk mengejar posisi, atau mendatangkan reward secara finansial tok – betapa keringnya hidup kita.  Tapi ketika kita tahu bahwa yang kita lakukan bermanfaat bagi orang lain, di situlah kita bisa mengatasi kebosanan dan punya semangat untuk kerja setiap hari.     

Yuk kerja!

Pakai Baju Apa Hari Ini?

Apakah saya ingin penampilan saya instagrammable? Apakah saya ingin orang bilang saya kelihatan cantik? Apakah saya ingin orang bilang baju saya bagus?  Atau, sebenarnya yang lebih penting adalah, orang lain merasa nyaman di dekat saya? Orang lain merasa dihargai lewat cara saya berpakaian?

Dulu saya sering bingung mau pakai baju apa.  Baju ada selemari, tapi tiap kali mau pergi rasanya seperti nggak punya baju. Akhirnya balik lagi ke baju yang itu lagi, itu lagi.

Setelah dipikir-pikir, letak masalahnya adalah saya ingin kelihatan chic dan stylish seperti orang lain yang chic dan stylish di mata saya.  Akibatnya beli baju ini-itu, lepas dari pertimbangan tentang kecocokan.  Misalnya, apakah baju itu cocok untuk umur saya dan kenyataan bahwa saya ibu beranak dua? Apakah model itu cocok dengan bentuk tubuh saya?  Dengan jenis pekerjaan saya? Dengan tempat-tempat yang biasa saya kunjungi?

Saya juga sempat terjebak pemikiran punya baju banyak akan lebih mudah memutuskan pakai yang mana.  Kenyataannya, saya justru tambah bingung.  Atasan mana yang cocok dengan rok merah bunga-bunga ini? Wah…sepertinya nggak ada. Apa artinya saya harus beli lagi?

See what I mean?

Image result for nothing to wear cartoon
Image from the internet

Saya lalu berpikir, apa sebenarnya tujuan saya waktu memakai pakaian tertentu?  Apakah supaya penampilan saya instagrammable? Supaya orang bilang saya kelihatan cantik? Supaya orang bilang baju saya bagus?  Atau sebenarnya, yang seharusnya lebih penting, apakah orang lain merasa nyaman di dekat saya? Orang lain merasa dihargai lewat cara saya berpakaian?

Contoh ekstrimnya, kalau saya meeting dengan client, tentu kurang pas datang dengan rok mini.  Kalau saya diundang makan, tentu nggak pas kalau saya nongol dengan t-shirt yang saya pakai berkebun.  Atau kalau saya volunteering  di rumah lansia, tentu nggak pas datang dengan baju pesta.  Sekali lagi, ini contoh ekstrimnya.

Pencerahan ini membuat saya terdorong untuk simplify my wardrobe.  Baju yang teronggok bertahun-tahun karena setelah dibeli ternyata tidak cocok saya singkirkan.  Saya juga merasa perlu menemukan style saya sendiri, dan tidak maksain style orang lain.  Mungkin blus rimpel-rimpel terlihat cantik untuk orang lain, tapi nggak nyambung untuk saya.  Mungkin rok lebar terlihat manis untuk orang lain, tapi seperti tenda kalau saya pakai.  Lalu, apakah baju model tertentu bikin saya risih? Jika saya memakai baju itu, apakah sepanjang waktu saya akan merasa nyaman, atau sangat self conscious dan sedikit-sedikit perlu membetulkan baju?

Tentu ini semua lewat proses trial and error. Tidak instan.  Apalagi, pada dasarnya saya bukan orang yang terlalu stylish, jadi memang perlu waktu untuk mengenali apa yang cocok untuk saya.

Nah, lewat proses ini, wardrobe saya perlahan-lahan berganti wajah.  Saat ini, baju saya lebih banyak berwarna netral dengan model yang simple dan timeless.  Tentu ada warna-warna cerah di sana-sini, tapi jumlahnya tidak banyak.  Khusus untuk bekerja, saya lebih banyak memilih warna hitam-putih. Proses memilih pakaian jadi jauh lebih cepat. Supaya tidak monoton, saya tinggal menambahkan scarf atau aksesoris berwarna.

Saya juga belajar untuk mementingkan kualitas dibanding kuantitas.  Memang dengan besaran uang yang sama, jumlah baju yang bisa saya beli jadi lebih sedikit. Tapi saya dapat baju yang potongannya bagus, bahannya nyaman, dan tahan lama.

Intinya bagi saya, waktu yang ada bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekedar pusing urusan pakai baju apa hari ini.

Gimana. Siap bongkar lemari?

Yuk…

Working from Home

Bukan. Itu bukan gambar rumah saya. Kalau iya, alangkah indahnya.

Sejak punya anak kemudian kembali kerja kantoran, saya ‘berhasil’ negosiasi untuk sekali-sekali kerja dari rumah. Biasanya kalau perlu datang ke acara-acara sekolah, saya memilih kerja dari rumah. Sekolah anak-anak tidak jauh dari rumah, kalau harus ke kantor dulu saya akan habis waktu untuk mondar-mandir. Jauh lebih hemat dan lebih produktif kalau saya langsung ngantor di rumah saja.

Balik lagi ke gambar di atas, duh, bener deh, pinginnya ruang kerja saya di rumah seperti itu. Apa daya, meja kerja saya sejauh ini masih merangkap meja makan (atau sebaliknya). Spare room yang sedianya dipakai untuk study akhirnya jadi ‘multipurpose room’ saking semua-semua yang gak punya alamat resmi disimpan di situ.

Ada sekotak mainan yang gak punya tempat karena rak mainan sudah terlalu penuh. Sekeranjang baju bersih yang belum sempat dilipat. Dua bungkus  nappy  pants yang gak sempat terpakai. Modem. Printer. Puzzles dan game boards.  Termos besar yang entah kenapa bertengger di situ dan bukannya di lemari dapur. Mungkin kegedean  jadi gak muat masuk lemari. Sekotak bahan arts and crafts. Sekotak cangkir dan tatakan yang belum sempat disusun di lemari dapur. Meja setrika yang harusnya dilipat dan disimpan di balik pintu. Entah ada apa lagi di kamar itu. Eh bener kan, multi purpose? Gak bohong saya…

Maka di hari saya bekerja dari rumah, saya bertapa di meja makan. Untungnya saya nggak terlalu suka ngeprint, jadi saya jarang bawa pulang kertas-kertas kerjaan. Meja makan tetap rapi dan bersih dari tumpukan kertas. Hanya saja, dengan dua anak kecil yang kecepatannya ngotorin rumah melebihi kecepatan cahaya, kerja dari rumah memberi tantangan tersendiri.

Dari tempat saya duduk, saya bisa lihat bungkus crackers di bawah meja tv. Ada crayon warna ungu di dekatnya. Dan potongan lego warna biru dan orang-orangan lego. Kepalanya saja.

Di dekat ketel ada botol air Number 1 yang lagi-lagi lupa saya masukkan ke tasnya. Berarti hari ini dia harus minum langsung dari water fountain. Di pintu kulkas ada cap tangan Number 2 yang tadi pagi mengoles sendiri selai coklat ke roti tawarnya. Di dekat pintu ada sepatu suami. Padahal rak sepatu ada di balik pintu itu. Kenapa ya kok perjalanan sepatunya cuma sampai situ? Nanggung banget…

Hati nurani saya terusik untuk segera menyingsingkan lengan baju dan bersih-bersih, sementara di layar komputer terlihat email mulai berdatangan. Skype mulai berkedip genit cari perhatian. Deadline sudah dekat. Kerjaan masih menumpuk.

Dengan berat hati saya mulai mengetuk keyboard. Menjawab pertanyaan orang-orang yang mulai tidak sabar. Memoles dokumen yang harus segera disubmit ke client. Memeriksa defect list yang makin lama makin panjang.

Waktu jarum pendek dan jarum panjang menyentuh angka 12, saya segera bangkit dari tempat duduk. Merunduk di depan meja tv sambil menggapai-gapai, mencari crayon, lego, bungkus crackers dan kepala orang-orangan lego. Meletakkan sepatu suami di tempatnya. Mengambil lap dan membersihkan pintu kulkas. Menyimpan botol air di kulkas supaya dingin waktu Number 1 pulang. Mengambil sapu dan mulai menyapu. Memilah dan memasukkan baju kotor ke mesin cuci. Mengosongkan dishwasher dan mengisinya kembali dengan onggokan piring kotor berikutnya. Mengintip kulkas cari makan siang sambil mikir mau masak apa untuk makan malam. Mengambil dan menyortir surat dari kotak pos.

Dan tiba-tiba waktu istirahat habis sudah. Email kembali bermunculan. Skype kembali berkedip. Waktunya kembali bekerja. Sambil membayangkan seandainya ruang kerja saya seperti  di gambar itu…

Gratisan

Hari ini dalam perjalanan ke kantor, di dekat lampu merah tak jauh  dari kompleks perkantoran, berdiri dua orang gadis manis. Biasanya saya tidak akan terlalu terusik karena sepanjang jalan begitu sering berpapasan dengan yang seperti mereka.

Tapi hari ini sungguh mereka terlihat lebih menarik, karena di antara keduanya berdiri sebuah ember besar dengan seonggok es kopi botolan. Dengan ramah mereka menawarkan botol-botol kopi ini kepada orang-orang yang bersliweran. Iced coffee for free? tak lupa senyum manis pun ditebarkan.

Saya yang sudah menerawang dari seberang jalan langsung berdiri tegak mendengar kata free. Segera saya menekan tombol minta lewat di tiang lampu merah. Tuk..tuk..tuk…tak lama lampu pejalan kaki berubah hijau. Segera saya menyebrang mendatangi gadis-gadis manis dengan kopi gratis. Menebar senyum tak kalah manisnya, saya menyambut si botol kopi dingin dengan gembira.

Kopi dingin enak dan gratis, you just made my day!

Apa itu working mum?

Saya nyaris selalu bekerja sejak lulus kuliah sampai sekarang.  Maksud saya bekerja formal dengan gaji dan jadwal yang tetap.  Sejak menikah, hanya ada dua kali break dari pekerjaan formal saya.  Yang pertama selama setahun, ketika saya melahirkan anak pertama, dan yang kedua hampir dua tahun, waktu melahirkan anak yang kedua.

Bagi ibu-ibu seperti saya yang bekerja di sektor formal, predikat working mum lebih mudah disematkan.  Bagi ibu-ibu yang tidak bekerja formal, predikat yang sering digunakan adalah stay at home mum.  Tapi apakah ini berarti mereka tidak bekerja?

Lepas dari apakah yang mereka lakukan di rumah membawa dampak langsung secara finansial (misalnya, ibu-ibu yang berbisnis online dari rumah, buka warung makan di depan rumah, terima pesanan kue dan catering), saya rasa semua ibu bekerja.  Semua ibu adalah working mum.

Waktu saya ambil cuti besar, hari-hari saya disibukkan dengan urusan anak dan rumah tangga. Mulai dari beberes, mencuci, ngepel, masak, belanja, antar-jemput sekolah, memandikan dan memberi makan, dan banyak lagi.  Tentu tiap keluarga kondisinya berbeda, maka pekerjaannya pun akan berbeda.  Ada yang punya satu anak, ada yang lebih.  Ada yang punya bala bantuan, ada yang tidak.  Poin saya, dengan tugas sebanyak itu, semua ibu adalah ibu bekerja.  Kalau tidak, bagaimana tugas seabrek-abrek ini akan selesai?

Ketika saya akan cuti panjang yang pertama, saya tanya pada ibu: gimana kalau nanti saya bosan?  Kalau misalnya anak tidur dan pekerjaan rumah sudah dikerjakan, saya ngapain? Ibu saya menjawab, pekerjaan rumah tidak ada habisnya.  Mungkin maksudmu, kamu bosan dengan rutinitas pekerjaan rumah dan ingin melakukan yang lain. Kamu bisa membaca, menulis,  atau belajar sesuatu.  Yang penting, isi waktu dengan hal-hal yang berguna dan membangun dirimu. Jangan cuma nonton tv dan main facebook, begitu pesan ibu.  Waktu dan potensi yang diberikan Tuhan harus digunakan dan dikembangkan. Kalau kita malas-malasan, itu namanya tidak bersyukur.

Maka mengikuti saran ibu, saya belajar memasak.  Ya, waktu itu saya memang kurang bisa dan kurang gemar memasak.  Karena saya tidak bekerja, kami harus berhemat.  Tidak bisa sering-sering makan di luar.  Itu sebabnya belajar memasak adalah hal pertama yang saya lakukan.  Jadi waktu anak tidur dan pekerjaan rumah bisa menunggu, saya mulai bongkar buku resep dan memasak.  Lumayan, sampai sekarang masakan saya masih bisa ditelan, nggak parah-parah amat.

Ketika saya cuti panjang kedua, saya belajar bikin kue dan cemilan.  Risoles, kroket, arem-arem, klepon, cake, muffin, brownies, lemper, cheesetick dan roti isi, semua saya coba.  Suami sumringah, karena hampir tiap pulang kerja ada teh dan cemilan menanti.

Ketika acara masak-memasak mulai kehilangan daya tariknya, saya mulai melirik hal lain.  Waktu itu yang menarik minat saya adalah belajar menerjemahkan.  Kebetulan ada kenalan yang sedang menerjemahkan buku anak-anak dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.  Saya memberanikan diri untuk menawarkan bantuan, dan ternyata disambut baik.  Walaupun awalnya hasil terjemahan saya banyak sekali diedit, lama-lama saya mulai paham apa yang diinginkan. Mulai ketemu pakemnya.

Di waktu lain, saya berusaha banyak membaca.  Mulai dari chic lit, artikel kesehatan, artikel tentang perkembangan anak, tentang barang antik…apa saja yang menarik minat saya.  Sekali-kali saya pun ikut ngumpul dengan ibu-ibu lain sambil membawa anak-anak bermain, atau volunteering di sekolah waktu suami dapat libur dan bisa menjaga si kecil.

Intinya,  seperti pesan ibu, walau di rumah saya berusaha tetap melakukan hal-hal yang berguna.  Berguna bagi saya, keluarga saya, dan juga bagi orang-orang di sekitar saya.  Maka bagi saya, walaupun waktu itu resminya saya di rumah, saya tetaplah a working mum.

Cleaning Lady

Sebagai ibu bekerja di luar rumah, satu hal yang agak sulit untuk dilakukan adalah membersihkan rumah.  Kalau sekedar spot cleaning tentu dilakukan tiap hari.  Nyapu, ngelap dan beberes setiap hari memang tidak bisa dihindari.

Yang jadi persoalan, saya dan suami tidak punya waktu (dan energi) untuk membersihkan rumah secara menyeluruh.  Misalnya menyikat kamar mandi dan WC, ngelap jendela, ngepel dan vakum, membersihkan oven, dan teman-temannya.  Setelah ngantor dari pagi sampai sore, disambung spot cleaning dan pr anak-anak di malam hari, lalu berbagai aktivitas di akhir minggu, sesungguhnya nyaris tidak ada waktu tersisa. Bahkan untuk sekedar selonjoran di depan sofa.

Maka sejak saya kembali ngantor, kami mengajak seorang cleaning lady dan suaminya untuk terlibat dalam urusan domestik kami. Mereka datang dua minggu sekali sekitar tiga jam, untuk membersihkan apa yang tidak sempat kami bersihkan.

Tentu dengan adanya mereka kami jadi sangat terbantu.  Apalagi mereka bisa ditinggal, jadi waktu kami pulang rumah sudah bersih dan rapi.  Barang-barang semua kembali ke tempatnya. Kamar mandi dan WC tersanitasi.  Dapur dan oven disemprot dan digosok mengkilap, karpet dan lantai bersih disedot dan dipel dengan cairan antiseptik.

Tapi tahukah Anda, betapa sibuknya saya di malam sebelum kedatangan mereka?

92f6334c38937aa48f06dae9228fc3ac

Di malam sebelum kedatangan si cleaning lady dan suaminya, saya membereskan baju-baju, sepatu, tas,mainan dan entah apa lagi, yang bertengger di tempat-tempat yang tidak semestinya.  Membereskan setiap ruangan dan mengosongkan tempat sampah di kamar mandi.  Membereskan cucian supaya tidak terlalu menggunung. Membersihkan kulkas dari makanan yang sudah melihat hari-hari yang lebih baik. Mengatur rak sepatu dan rak buku.  Melap kompor supaya tidak terlalu kotor. Bahkan, suami saya membersihkan toilet yang akan dibersihkan oleh si cleaning lady!

Kadang saya berpikir, rumah kan mau dibersihin, kok saya bersihin duluan? Tapi sejujurnya, saya nggak rela orang lain melihat rumah saya dalam kondisi porak-poranda.  Sesibuk-sibuknya saya, naluri sebagai homemaker mendorong saya untuk membuat rumah kelihatan somewhat presentable. Walaupun yang melihat adalah orang yang sebenarnya akan membuat rumah saya presentable!

Siapa bilang ibu-ibu tidak complicated…

Kopi

Sebenarnya kalau dibilang saya nggak bisa survive tanpa kopi, ya nggak juga. Kayaknya kok lebay banget…

Tapi memang kebiasaan yang saya pupuk sejak sering begadang di masa-masa perjuangan di bangku kuliah bikin minum kopi jadi satu ritual tersendiri. Rasanya kalau belum minum kopi seharian seperti ada yang kurang (nah yang ini honestly rada lebay deh…).

Idealnya nih, pinginnya saya minum kopi itu pagi-pagi. Almost the  first thing in the morning, setelah bangun pagi, bersyukur pada Sang Pencipta dan sikat gigi.

Apa daya. Dengan hiruk-pikuk pagi hari, perjalanan ke sekolah anak-anak disambung perjalanan ke kantor, maka saya baru bisa minum kopi begitu sampai di kantor.  Sekitar tiga setengah jam setelah saya bangun. Bayangkan. Menunggu begitu lama hanya untuk menikmati secangkir kopi dengan tenang.

Itu pun kalau tidak ada gangguan eksternal begitu saya sampai di kantor. Kadang-kadang bos saya kreatif dan sangat berinisiatif. Belum juga saya duduk, dia mengusulkan untuk stand up comedy – eh – stand up meeting. Saya bikin kopi dulu ya bos? Kata saya. Sebentar saja kok ini, katanya. Memang stand up meeting (atau stand up saja kata orang-orang sini) harusnya cepat selesai. Lapor progress, issues and plan, sudah. Tapi kalau yang laporan satu tim, apalagi kalau ada yang lagi galau maka isi laporannya issue melulu, tetap aja jadi lama.  Jadilah saya menunggu lagi untuk bisa menikmati secangkir kopi.

Tahukah mereka, setelah berjibaku sekian jam dengan kesibukan di pagi hari, betapa saya menantikan kehangatan cairan kopi dengan aromanya yang dahsyat dan cita rasanya yang dalam?

Sungguh, saya pun tak bisa menyangkal kalau ini lebay…