Saya Tidak Suka Sayur

Saya yakin seyakin-yakinnya bukan cuma saya yang harus berhadapan dengan anak yang nggak suka sayur (hayo ngaku…).  Dua anak saya nggak suka makan sayur.  Maksudnya, mereka nggak akan secara sadar memilih makan sayur.

image from the internet

Setiap hari tentu ada sayuran di menu makanan kami.  Sayur bening, tumis, sup, sayur asem, gado-gado… Tapi entah berapa sering disodorkan, sesering itu juga anak-anak menolak.  Mereka hanya secara suka rela makan sayur kalau diselundupkan di saos spaghetti atau topping pizza.  Tapi kan nggak mungkin tiap hari makan spaghetti atau pizza.  Gimana dong dengan saya dan bapaknya yang doyan oseng-oseng?

Anak saya yang besar sekali-sekali masih mau makan sayur walaupun harus setengah dipaksa.  Saya terus ‘mengindoktrinasi’ kalau sayur itu penting untuk pertumbuhannya, bikin kulit bagus,…bla.bla..bla.  

Anak yang kecil unfortunately lebih susah diindoktrinasi.  Untuk bekal makan siang dia cuma mau wortel mentah yang dipotong sebesar korek api.  Itu pun kadang-kadang dimakan, kadang nggak. Tapi di rumah dia mau makan kalau sayurnya nggak kelihatan.  Jadi saya bantu dia ngumpetin sayurnya di dasar sendok, lalu di atasnya dikasih nasi dan potongan lauk.   Barulah dia masukkan ke mulutnya.  Bingung juga saya, apa bedanya ya? Toh dia tetap tahu kalau ada sayurnya?  Tapi nyatanya trik itu berhasil bikin dia makan sayur.

Kemarin kami dapat kiriman bala-bala sayuran dari teman.  Anak yang kecil memeriksa dengan seksama, dan mulai cemberut waktu lihat potongan wortel dan daun bawang mencuat keluar.  Dia coba segigit lalu memutuskan nggak suka.  Ini sayur, katanya.  

Anak yang besar pun langsung pasang tameng.  Saya nggak suka sayur, katanya.  Coba dulu, ini enak, bujuk saya.  Ia pun menurut, coba segigit.  Hmm…enak, ujarnya.  Tapi saya nggak  suka sayur, tegasnya.

Sambil menghabiskan dua potong bala-bala….

Advertisements

Celengan

Anak-anak saya belum dapat uang jajan rutin.  Saya merasa belum perlu.  Setiap hari mereka bawa bekal dari rumah, mulai dari snack, buah, jus, air putih, sampai makan siang.  Kantin hanya buka hanya dua atau tiga hari dalam seminggu, dan snack yang dijual hampir semua bisa disediakan dari rumah.  Jadi anak-anak tidak perlu membeli di kantin.

Walaupun tidak punya uang saku yang tetap, anak-anak punya celengan.  Uangnya dari mana? Macam-macam.  Ada dari neneknya, tantenya, omnya, ada juga yang dari saya dan ayahnya.  Mereka boleh membuka tabungan di hari ulang tahun, dan memakai uangnya untuk pesta ultah dengan teman-teman.  Kalau tidak ingin pesta ultah (kami tidak membiasakan mereka harus pesta ultah), mereka boleh beli sesuatu yang agak besar nilainya.  Misalnya sepeda, trampolin,  dan sejenisnya.

Uang dari saya dan suami biasanya diberikan kalau mereka membantu kami di sekitar rumah, baik diminta maupun inisiatif sendiri.  Tidak selalu diberi, supaya uang tidak jadi motivasi untuk membantu.  Tergantung kami, akan memberi atau tidak.  Akibatnya kalau tiba-tiba diberi, mereka senang sekali!  Dapat sekeping senangnya seperti menang lotere semilyar… Uang itu lalu mereka masukkan ke celengan untuk menambah dana ulang tahun.

Di hari ulang tahun mereka kami membongkar celengan, lalu pergi ke bank menukarkan sekantong recehan dengan uang kertas. Ini tabungan saya, kata si anak yang berulang tahun kepada teller di bank. Bangga sekali dia.

Dua tahun belakangan ini saya jadi terinspirasi punya celengan juga.  Awalnya karena sering terima kembalian receh, dompet saya jadi berat. Saya keluarkan dari dompet, malah tercecer karena tidak ada tempat khusus.  Akhirnya saya pakai celengan. Lumayan lho, tahun lalu dengan recehan itu saya bisa mengganti karpet karet yang di dalam mobil.  Nah, siapa tahu tahun ini bisa ganti mobilnya…

Berguna Bagi Nusa dan Bangsa

Saya masih ingat betapa seringnya membaca atau mendengar ucapan ini ketika ada bayi yang baru lahir: Semoga menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.  Sekarang kedengarannya sangat klise, dan kita lebih sering memakainya dalam konteks guyonan.  Tapi kalau dipikir-pikir there is truth behind this sentence.

Pertanyaan kalau sudah besar mau jadi apa? mungkin umurnya sama tuanya dengan meja setrika ibu saya.  Bahkan lebih tua. Baru masuk tk saja kita sudah ditanya mau jadi apa.  Bisa baca aja belum ooommm….

Pikiran jadi apa menempel juga pada saya, dan menjadi tujuan hidup masa kecil saya. Singkatnya, saya harus belajar yang baik supaya jadi orang.  Jadi apa dalam benak saya saat itu masih sangat mainstream.  Jadi dokter, jadi guru, jadi lawyer, jadi polisi, jadi pramugari, adalah pemahaman saya tentang jadi orang.  Tanpa memikirkan mengapa.

Namun belakangan saya merasa berguna bagi nusa dan bangsa menjadi lebih penting daripada jadi apa.  Sebenarnya kalau disederhanakan, kalimat itu kan maksudnya berguna bagi orang lain.  Kita tidak hidup sendiri, dan seharusnya tidak hidup hanya untuk diri sendiri.  Saya yakin setiap kita ditempatkan di bumi ini untuk suatu tujuan yang baik.  Jadi, apapun yang kita lakukan, apa pun profesi kita, seharusnya berguna bagi orang lain.  Tidak jadi beban, apalagi jadi penyakit.

Pelan-pelan saya belajar menularkan pengertian ini pada anak-anak.  Bahwa mereka belajar sekarang agar nantinya bisa melakukan sesuatu yang membantu orang lain.   Ketika mereka menekuni suatu hobi pun, entah itu musik, melukis, main bola, menyanyi, kerajinan tangan, tujuannya adalah mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Duh, sudah cukup berpikir kerasnya.  Sekarang yuk berpikir ringan. Masak apa hari ini?

To-do List

Kenyataannya, saya lebih sering mengandalkan ingatan (yang kapasitasmya sudah terpengaruh faktor “U”) dan membuat mental note di pagi hari untuk hal-hal yang urgent di hari itu.

Siapa yang tidak pernah bikin – atau at least berusaha bikin – todo list? Dan berapa banyak yang berhasil menepati setidaknya sebagian besar to do list-nya?

Saya termasuk penggemar to-do list. Sejak dibelikan agenda kecil oleh ibu saya waktu masih di bangku SD (karena sering lupa bikin pr), saya jadi terbiasa mencatat apa-apa yang harus dikerjakan. Saking rajinnya sampai-sampai beberapa teman suka  nyontek to-do list saya. Loh…kok bukan pr-nya yang dicontek? PR saya kurang meyakinkan tampaknya…

Kebiasaan membuat to-do list saya teruskan, or at least berusaha saya teruskan, sampai menikah dan punya anak. Tapi saudara-saudara, dengan empat kepala di bawah satu atap, dengan kebutuhan dan permasalahannya masing-masing, sebanyak dan sesering apapun saya membuat to-do list ada saja yang terlewatkan.

Padahal di jaman yang semakin canggih ini saya punya piranti pengingat yang seharusnya memudahkan saya. Mulai dari hape yang ribut bernyanyi kalau ada tugas yang belum dikerjakan, outlook calendar, sampai kalender magnet di kulkas yang bisa dicoret-coret dengan whiteboard marker.

Tapi memelihara to-do list untuk empat orang sungguh seperti mendaki gunung terjal yang tak kelihatan puncaknya. Number 1 perlu kaos kaki sekolah. Number 2 minggu depan ada excursion, perlu bekal. Atau itu Number 1? Pak boss perlu diingatkan panggil plumber untuk benerin keran bocor (sungguh, saya juga nggak habis pikir kenapa dia nggak membuat to-do listnya sendiri).  Ada tiga undangan ultah dalam dua minggu ke depan yang perlu dibeli kadonya dan diatur siapa mengantar anak yang mana. Weekly meeting minggu depan dimajukan ke pagi hari, jadi harus negosiasi dengan pak boss untuk mengantar krucil. Invoice ekskul sudah overdue. Sepertinya bulan lalu sudah ada reminder untuk bayar? Apa yang terjadi? Hmm…kemungkinan besar karena hp super pintar terus-terusan mengingatkan, saya jadi agak kesal. Iya, iya…saya sudah tahu. Klik, reminder dimatikan.

Akhirnya, saya lebih sering mengandalkan ingatan (yang kapasitasnya sudah tergerus faktor “U”) dan membuat mental note di pagi hari untuk hal-hal yang urgent di hari itu.  Jadi sebenarnya to-do list hanya dibuat untuk membuat saya feel better. At least hal-hal yang menurut saya penting sudah tercatat di berbagai piranti pengingat. Apakah nantinya saya akan lihat daftar itu dan mencoretnya satu demi satu, itu masalah lain…

Working from Home

Bukan. Itu bukan gambar rumah saya. Kalau iya, alangkah indahnya.

Sejak punya anak kemudian kembali kerja kantoran, saya ‘berhasil’ negosiasi untuk sekali-sekali kerja dari rumah. Biasanya kalau perlu datang ke acara-acara sekolah, saya memilih kerja dari rumah. Sekolah anak-anak tidak jauh dari rumah, kalau harus ke kantor dulu saya akan habis waktu untuk mondar-mandir. Jauh lebih hemat dan lebih produktif kalau saya langsung ngantor di rumah saja.

Balik lagi ke gambar di atas, duh, bener deh, pinginnya ruang kerja saya di rumah seperti itu. Apa daya, meja kerja saya sejauh ini masih merangkap meja makan (atau sebaliknya). Spare room yang sedianya dipakai untuk study akhirnya jadi ‘multipurpose room’ saking semua-semua yang gak punya alamat resmi disimpan di situ.

Ada sekotak mainan yang gak punya tempat karena rak mainan sudah terlalu penuh. Sekeranjang baju bersih yang belum sempat dilipat. Dua bungkus  nappy  pants yang gak sempat terpakai. Modem. Printer. Puzzles dan game boards.  Termos besar yang entah kenapa bertengger di situ dan bukannya di lemari dapur. Mungkin kegedean  jadi gak muat masuk lemari. Sekotak bahan arts and crafts. Sekotak cangkir dan tatakan yang belum sempat disusun di lemari dapur. Meja setrika yang harusnya dilipat dan disimpan di balik pintu. Entah ada apa lagi di kamar itu. Eh bener kan, multi purpose? Gak bohong saya…

Maka di hari saya bekerja dari rumah, saya bertapa di meja makan. Untungnya saya nggak terlalu suka ngeprint, jadi saya jarang bawa pulang kertas-kertas kerjaan. Meja makan tetap rapi dan bersih dari tumpukan kertas. Hanya saja, dengan dua anak kecil yang kecepatannya ngotorin rumah melebihi kecepatan cahaya, kerja dari rumah memberi tantangan tersendiri.

Dari tempat saya duduk, saya bisa lihat bungkus crackers di bawah meja tv. Ada crayon warna ungu di dekatnya. Dan potongan lego warna biru dan orang-orangan lego. Kepalanya saja.

Di dekat ketel ada botol air Number 1 yang lagi-lagi lupa saya masukkan ke tasnya. Berarti hari ini dia harus minum langsung dari water fountain. Di pintu kulkas ada cap tangan Number 2 yang tadi pagi mengoles sendiri selai coklat ke roti tawarnya. Di dekat pintu ada sepatu suami. Padahal rak sepatu ada di balik pintu itu. Kenapa ya kok perjalanan sepatunya cuma sampai situ? Nanggung banget…

Hati nurani saya terusik untuk segera menyingsingkan lengan baju dan bersih-bersih, sementara di layar komputer terlihat email mulai berdatangan. Skype mulai berkedip genit cari perhatian. Deadline sudah dekat. Kerjaan masih menumpuk.

Dengan berat hati saya mulai mengetuk keyboard. Menjawab pertanyaan orang-orang yang mulai tidak sabar. Memoles dokumen yang harus segera disubmit ke client. Memeriksa defect list yang makin lama makin panjang.

Waktu jarum pendek dan jarum panjang menyentuh angka 12, saya segera bangkit dari tempat duduk. Merunduk di depan meja tv sambil menggapai-gapai, mencari crayon, lego, bungkus crackers dan kepala orang-orangan lego. Meletakkan sepatu suami di tempatnya. Mengambil lap dan membersihkan pintu kulkas. Menyimpan botol air di kulkas supaya dingin waktu Number 1 pulang. Mengambil sapu dan mulai menyapu. Memilah dan memasukkan baju kotor ke mesin cuci. Mengosongkan dishwasher dan mengisinya kembali dengan onggokan piring kotor berikutnya. Mengintip kulkas cari makan siang sambil mikir mau masak apa untuk makan malam. Mengambil dan menyortir surat dari kotak pos.

Dan tiba-tiba waktu istirahat habis sudah. Email kembali bermunculan. Skype kembali berkedip. Waktunya kembali bekerja. Sambil membayangkan seandainya ruang kerja saya seperti  di gambar itu…

Cleaning Lady

Sebagai ibu bekerja di luar rumah, satu hal yang agak sulit untuk dilakukan adalah membersihkan rumah.  Kalau sekedar spot cleaning tentu dilakukan tiap hari.  Nyapu, ngelap dan beberes setiap hari memang tidak bisa dihindari.

Yang jadi persoalan, saya dan suami tidak punya waktu (dan energi) untuk membersihkan rumah secara menyeluruh.  Misalnya menyikat kamar mandi dan WC, ngelap jendela, ngepel dan vakum, membersihkan oven, dan teman-temannya.  Setelah ngantor dari pagi sampai sore, disambung spot cleaning dan pr anak-anak di malam hari, lalu berbagai aktivitas di akhir minggu, sesungguhnya nyaris tidak ada waktu tersisa. Bahkan untuk sekedar selonjoran di depan sofa.

Maka sejak saya kembali ngantor, kami mengajak seorang cleaning lady dan suaminya untuk terlibat dalam urusan domestik kami. Mereka datang dua minggu sekali sekitar tiga jam, untuk membersihkan apa yang tidak sempat kami bersihkan.

Tentu dengan adanya mereka kami jadi sangat terbantu.  Apalagi mereka bisa ditinggal, jadi waktu kami pulang rumah sudah bersih dan rapi.  Barang-barang semua kembali ke tempatnya. Kamar mandi dan WC tersanitasi.  Dapur dan oven disemprot dan digosok mengkilap, karpet dan lantai bersih disedot dan dipel dengan cairan antiseptik.

Tapi tahukah Anda, betapa sibuknya saya di malam sebelum kedatangan mereka?

92f6334c38937aa48f06dae9228fc3ac

Di malam sebelum kedatangan si cleaning lady dan suaminya, saya membereskan baju-baju, sepatu, tas,mainan dan entah apa lagi, yang bertengger di tempat-tempat yang tidak semestinya.  Membereskan setiap ruangan dan mengosongkan tempat sampah di kamar mandi.  Membereskan cucian supaya tidak terlalu menggunung. Membersihkan kulkas dari makanan yang sudah melihat hari-hari yang lebih baik. Mengatur rak sepatu dan rak buku.  Melap kompor supaya tidak terlalu kotor. Bahkan, suami saya membersihkan toilet yang akan dibersihkan oleh si cleaning lady!

Kadang saya berpikir, rumah kan mau dibersihin, kok saya bersihin duluan? Tapi sejujurnya, saya nggak rela orang lain melihat rumah saya dalam kondisi porak-poranda.  Sesibuk-sibuknya saya, naluri sebagai homemaker mendorong saya untuk membuat rumah kelihatan somewhat presentable. Walaupun yang melihat adalah orang yang sebenarnya akan membuat rumah saya presentable!

Siapa bilang ibu-ibu tidak complicated…

Kopi

Sebenarnya kalau dibilang saya nggak bisa survive tanpa kopi, ya nggak juga. Kayaknya kok lebay banget…

Tapi memang kebiasaan yang saya pupuk sejak sering begadang di masa-masa perjuangan di bangku kuliah bikin minum kopi jadi satu ritual tersendiri. Rasanya kalau belum minum kopi seharian seperti ada yang kurang (nah yang ini honestly rada lebay deh…).

Idealnya nih, pinginnya saya minum kopi itu pagi-pagi. Almost the  first thing in the morning, setelah bangun pagi, bersyukur pada Sang Pencipta dan sikat gigi.

Apa daya. Dengan hiruk-pikuk pagi hari, perjalanan ke sekolah anak-anak disambung perjalanan ke kantor, maka saya baru bisa minum kopi begitu sampai di kantor.  Sekitar tiga setengah jam setelah saya bangun. Bayangkan. Menunggu begitu lama hanya untuk menikmati secangkir kopi dengan tenang.

Itu pun kalau tidak ada gangguan eksternal begitu saya sampai di kantor. Kadang-kadang bos saya kreatif dan sangat berinisiatif. Belum juga saya duduk, dia mengusulkan untuk stand up comedy – eh – stand up meeting. Saya bikin kopi dulu ya bos? Kata saya. Sebentar saja kok ini, katanya. Memang stand up meeting (atau stand up saja kata orang-orang sini) harusnya cepat selesai. Lapor progress, issues and plan, sudah. Tapi kalau yang laporan satu tim, apalagi kalau ada yang lagi galau maka isi laporannya issue melulu, tetap aja jadi lama.  Jadilah saya menunggu lagi untuk bisa menikmati secangkir kopi.

Tahukah mereka, setelah berjibaku sekian jam dengan kesibukan di pagi hari, betapa saya menantikan kehangatan cairan kopi dengan aromanya yang dahsyat dan cita rasanya yang dalam?

Sungguh, saya pun tak bisa menyangkal kalau ini lebay…