Spring Cleaning

Setelah berbulan-bulan pakai meja makan sebagai tempat bertengger kalau saya kerja dari rumah, akhirnya kesampaian juga membereskan spare room untuk dijadikan ruang kerja.  Masih belum tuntas sih. Karpet yang ufah uzur belum diganti, rak buku belum dicat putih seperti keinginan saya.  Tapi at least udah rapi selayaknya kamar kerja.

Sebelum menyulap kamar ini, saya melakukan spring cleaning.  Idenya, semua barang yang nggak perlu lagi harus disingkirkan.  Selama ini kamar itu memang ‘multi purpose’.   Segala sesuatu yang nggak jelas alamatnya diparkir di sana.  Secara garis besar saya tahu ada apa aja, tapi waktu mulai lihat detilnya barulah saya sadar betapa banyak barang yang teronggok di sana.

Related image
image from the internet

Kepalang tanggung, saya lalu pergi ke kamar-kamar lain, membuka setiap lemari dan laci. Memilah mana yang masih perlu, mana yang bisa disumbangkan, dan mana yang harus berakhir di tempat sampah.

Saya sempat dihinggapi rasa sentimentil.  Ingin menyimpan barang karena kenangannya, karena perasaan yang ditimbulkan, atau sekedar siapa tau nanti perlu.  Akibatnya, nggak banyak yang bisa saya kurangi.

Saya kembali mengevaluasi.  Kalau sepotong baju nggak pernah dipakai selama hampir dua tahun, apakah ada kemungkinan akan dipakai lagi? Kalau juicer itu ternyata hanya dipakai sekali dan sudah empat tahun tersimpan di kotaknya, apakah ada kemungkinan dipakai lagi? Apakah hasil prakarya anak-anak sejak mereka play group harus disimpan semua? Apakah botol-botol air suvenir dari kantor masih perlu disimpan?

Maka saya menguatkan tekad, kembali memilah onggokan barang di depan saya.  Hasilnya, berkantong-kantong mainan dan buku anak, pakaian anak, pakaian dewasa dan peralatan dapur siap diantar ke charity.  Berkantong-kantong mainan dan peralatan rumah yang cacat, buku-buku catatan sekolah dari tahun kemarin, baju dan sepatu yang sudah usang siap masuk tong sampah.

Saya jadi berpikir, berapa banyak waktu dan uang yang sudah habis untuk barang-barang tersebut. Kalau dipakai dan jadi usang sih nggak masalah.  Tapi ternyata banyak juga barang yang dibeli karena sekedar ‘menarik’.  Selang sehari-dua hari, atau seminggu-dua minggu, daya tariknya hilang.  Berakhirlah ia di salah satu sudut gelap di dalam lemari.

Tampaknya saya perlu berpikir dua, tiga, bahkan empat kali sebelum membeli sesuatu. Menumpuk barang sebanyak itu, selain berdampak buruk bagi lingkungan karena sampah yang akan ditimbulkannya, berdampak negatif juga untuk kantong saya.  Coba kalau dibelikan pempek, sudah berapa kapal selam?